BzQbqi7srrl67Hfvhy9V9FxE68wSdBLJV1Yd4xhl

Pengikut

Pendidikan Seksual (Pengertian, Tujuan dan Materi)

Pendidikan Seksual (Pengertian, Tujuan dan Materi)
Pengertian Pendidikan Seksual
Pendidikan seksual didefenisikan sebagai mengajarkan tentang seksualitas manusia, termasuk :
  1. Hubungan intim;
  2. Anatomi seksual manusia
  3. Pendidikan reproduksi
  4. Infeksi menular seksual;
  5. Aktivitas seksual;
  6. Orientasi seksual;
  7. Identitas gender;
  8. Pantangan atau seksualitas yang harus dihindari;
  9. Kontrasepsi; dan 
  10. Hak dan tanggung jawab seksual. 
Sesuai perkembangan dan pendidikan berbasis penelitian seksualitas manusia dan reproduksi seksual dari waktu ke waktu, hal mana pendidikan seksual disediakan oleh :
  1. Orang Tua;
  2. Sekolah;
  3. Dokter; dan
  4. Tenaga profesional lainnya. 
Pendidikan seksual sangat penting untuk membantu anak-anak dan remaja memberi informasi, positif, dan aman tentang hubungan yang sehat, aktvitas seksual yang bertanggung jawab dan kesehatan reproduksinya.(Breuner, 2016). Pendidikan seks bukanlah tentang mendukung anak untuk melakukan hubungan seksual, akan tetapi menjelaskan fungsi alami seks sebagai bagian diri mereka serta konsekuensinya jika disalahgunakan. Adapun pendidikan seks dapat berupa :
  1. Pengajaran;
  2. Penyadaran, dan
  3. Pemberian informasi tentang masalah seksual. 
Informasi yang diberikan di antaranya pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, komitmen, agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut oleh sebab itu pendidikan seks itu sangat penting diberikan sejak dini. 

Pengetahuan tentang seks pada anak-anak dapat mencegah terjadinya penyimpangan seksual pada anak. Pendidikan seks pada anak juga dapat mencegah agar anak tidak menjadi korban pelecehan seksual dengan dibekali pengetahuan tentang seks sehingga mereka menjadi mengerti perilaku mana yang tergolong pelecehan seksual (Ratnasari, 2016).

Tujuan
Pendidikan seksual lebih dari sekedar menyampaikan informasi mengenai atomi dan fisiologi dari organ reproduksi serta seksual biologis. Pendidikan seksual mencangkup pengajaran mengenai :
  1. Kesehatan perkembangan seksual;
  2. Identitas gender;
  3. Hubungan seksual;
  4. Mencintai;
  5. Hubungan intim;
  6. Privasi anggota tubuh;
  7. dan lainnya. 
Perkembangan seksualitas yang sehat adalah tonggak perkembangan utama untuk semua anak dan remaja. Perkembangan seksualitas tergantung pada baik buruknya perolehan informasi mengenai membentuk :
  1. Sikap;
  2. Kepercayaan dan nilai tentang persetujuan;
  3. Seksual orientasi;
  4. Identitas Gender;
  5. Hubungan; dan 
  6. Keintiman. 
Kesehatan seksual dipengaruhi oleh etnis, ras, budaya, pribadi, kepercayaan, dan nilai moral seseorang. Promosi kesehatan seksual dan pengajaran mengenai hubungan interpersonal, nilai privasi bagian tubuh seksual, identitas gender, dan mengungkapkan kasih sayang, cinta, dan keintiman dengan cara konsisten dengan nilai-nilainya sendiri, preferensi seksual dan kemampuan, berbagai dimensi yang sehat. Seksualitas terdiri dari anatomi, fisiologi, dan biokimia sistem respon seksual, identitas, orientasi, peran,kepribadian, pikiran, perasaan dan hubungan. Pendidikan seksual dari tenaga profesional dapat memberikan informasi yang ideal bagi anak anak mengenai seksualitas (Breuner, 2016).

Materi
Pendidikan seksual untuk anak usia 6 (enam) sampai dengan 9 (sembilan) tahun yaitu anak diajarkan mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Orang tua bisa mengajarkan anak menolak untuk membuka pakaian bahkan jika ada imbalan sekalipun atau menolak diraba alat kelaminnya oleh temannya. Anak dalam rentang umur ini dapat diajarkan perbedaan jenis kelamin.(Ratnasari, 2016).

Untuk menentukan kriteria seorang dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan jiwa yang dialaminya dalam fase-fase perkembangan yang dialami seorang anak. Adapun tahapan pada masa kanak-kanak, yaitu sebagai berikut :
  1. Masa bayi, yaitu masa seorang anak dilahirkan sampai umur 2 (dua) tahun.
    • Pada masa tersebut seorang anak masih lemah belum mampu menolong dirinya, sehingga sangat tergantung kepada pemeliharaan ibu. Pada masa ini, terhadap anak terjadi beberapa peristiwa penting yang mempunyai pengaruh kejiwaan, seperti tumbuh gigi, disapih, mulai berbicara, dan berjalan;
    • Menurut Soesilowindradini, karena bayi masih membutuhkan bantuan dan tergantung kepada orang dewasa, maka ia masih mudah diatur. Hal tersebut menyebabkan orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar daripadanya akan senang kepadanya.
  2. Masa kanak-kanak pertama, yaitu antara usia 2 (dua) sampai 5 (lima) tahun
    Pada masa ini anak-anak sangat gesit bermain dan mencoba mulai berhubungan dengan orang-orang dalam lingkunganya serta mulai terbentuknya pemikiran dengan tentang dirinya. Pada masa ini anak-anak akan suka meniru dan emosinya sangat tajam. Oleh karena itu diperlukan suasana yang tenang dan memperlakukanya dengan penuh kasih sayang.
  3. Masa kanak-kanak terakhir, yaitu antara usia 5 (lima) sampai 12 (dua belas) tahun
    Pada fase ini anak berangsur-angsur pindah dari tahap mencari kepada tahap memantapkan. Pada tahap ini terjadi pertumbuhan kecerdasan yang cepat, lebih suka bermain bersama serta berkumpul tanpa aturan sehingga bisa disebut dengan gang age. Pada tahapan ini disebut juga masa anak sekolah dasar atau periode intelektual. 
  4. Masa remaja, yaitu antara usia 13 (tiga belas) sampai 20 (dua puluh) tahun
    Masa remaja adalah masa dimana perubahan cepat terjadi dalam segala bidang pada tubuh dari luar dan dalam, perubahan perasaan, kecerdasan, sikap sosial. Tahap ini merupakan tahap yang paling penting diantara tahap perkembangan lainnya karena orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup baik. Masa ini disebut juga sebagai masa persiapan untuk menempuh masa dewasa. Bagi seorang anak, pada masa tersebut merupakan masa goncangan karena banyak perubahan sikap yang terjadi dan tidak stabilnya emosi yang seringkali menyebabkan timbulnya sikap dan tindakan yang oleh orang dinilai sebagai perbuatan nakal. 
    • Pada masa yang pertama adalah masa seorang anak menginjak usia 13 sampai 17 tahun, hal mana dalam masa periode ini status anak remaja dalam masyarakat boleh dikatakan tidak dapat ditentukan dan membingungkan;
    • Sedangkan pada masa remaja yang terakhir adalah masa antara usia 17 sampai 20 tahun. Adapun pada masa ini seorang anak telah menunjukkan kestabilan yang bertambah bila dibandingkan dengan masa remaja sebelumnya.
  5. Masa dewasa muda, yaitu antara usia 21 (dua puluh satu) sampai 25 (dua puluh lima) tahun
    Pada masa dewasa muda ini pada umumnya masih dapat dikelompokkan kepada generasi muda. Walaupun dari segi perkembangan jasmaniah dan kecerdasan telah betul-betul dewasa dan emosi juga sudah stabil, namun dari segi kemantapan agama dan ideologi masih dalam proses pemantapan.
Menurut Darvis (2014) dan Aprilaz (2016) menyebutkan bahwa terdapat 8 (delapan) konsep dalam mengajarkan pendidikan seksual pada anak sebagai upaya melindungi anak dari kekerasan seksual, yaitu sebagai berikut :
  1. Body Ownership (kepemilikan atas tubuh anak)
    Body Ownership atau kepemilikan atas tubuh anak, hal mana anak diajarkan bahwa mereka memiliki bagian tubuh pribadi dimana orang lain tidak boleh menyentuh, melihat, dan mengambil foto pada area tubuh tersebut.
  2. Thouch (sentuhan)
    Thouch atau sentuhan, yaitu anak diajarkan untuk mengenali jenis-jenis sentuhan yang dapat menjurus pada tindak kekerasan seksual.
  3. Assertiveness (ketegasan)
    Assertiveness atau ketegasan, yaitu anak diajarkan bagaimana seharusnya berpakaian, bertingkah laku dan menghindari ancaman ancaman kekerasan seksual.
  4. The No-Go-Tell Sequence
    The No-Go-Tell Sequence, yaitu mengajarkan pada anak untuk berani mengatakan tidak apabila ada ancaman yang menjurus pada kekerasan seksual.
  5. Secrecy
    Secrecy, yaitu anak diajarkan bahwa rahasia tertentu harus diceritakan pada orang lain.
  6. Support System
    Support system, yaitu anak diajarkan untuk mengenal lembaga sosial yang akan melindunginya apabila terjadi tindak kekerasan seksual.
  7. Blame
    Blame, yaitu memberikan anak keyakinan apabila terjadi tindak kekerasan seksual merupakan bukan mutlak kesalahan anak.
Demikian penjelasan singkat mengenai Pendidikan Seksual (Pengertian, Tujuan dan Materi) yang dirangkum dari berbagai sumber, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Jika ada pertanyaan atau tanggapan sehubungan dengan artikel ini, silahkan tinggalkan pesan atau komentar di akhir postingan. Terima kasih.

Baca Juga:
Erisamdy Prayatna
Blogger | Advocate | Legal Consultant
Father of Muh Al Ghifari Ariqin Pradi

Baca Juga:

Posting Komentar