BzQbqi7srrl67Hfvhy9V9FxE68wSdBLJV1Yd4xhl

Pengikut

Perilaku Seks Pranikah

Pengertian Perilaku Seks Pranikah
Sarwono (2012) menyatakan bahwa perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berpacaran, bercumbu sampai bersenggama. Sementara perilaku seks pranikah diartikan sebagai segala bentuk perilaku seksual yang dilakukan di luar ikatan resmi pernikahan.

Perilaku seksual pranikah merupakan perilaku atau segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual sebelum ada ikatan pernikahan, baik dengan sesama jenis maupun lawan jenis. Perilaku ini muncul didukung oleh faktor yang mempengaruhinya seperti dorongan hasrat, perekonomian yang rendah memberikan kesempatan pada remaja khususnya remaja putri untuk melakukan seks pranikah (Ratna, 2012).

Indriyani (2007) mendefinisikan perilaku seks pranikah sebagai hubungan seks sebelum adanya perkawinan yang sah, baik hubungan seksual yang penetratif (masuknya penis ke dalam vagina) maupun yang non penetratif (kissing, necking, meraba, petting, oral seks). Rathus dan Nevid (1995) mengungkapkan bahwa perilaku seks pranikah adalah hubungan seks antara laki-laki dan perempuan meskipun tanpa adanya ikatan selama ada ketertarikan fisik.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwqa perilaku seks pranikah sebagai segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis yang dilakukan di luar hubungan pernikahan mulai dari mencumbu, meraba sambil berciuman, melakukan oral seks hingga bersenggama atau melakukan hubungan badan.


Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seks Pranikah
Faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku seks pranikah sangat beragam yang pemicunya bisa karena pengaruh lingkungan maupun karena faktor dari diri seseorang. (Sarwono, 2012). Adapun fakor yang mempengaruhi perilaku seks pranikah terdiri dari 2 (dua) faktor, yaitu:
  1. Faktor Internal; dan
  2. Faktor Eksternal.
Faktor Internal
Faktor internal yaitu faktor dari dalam diri individu, yaitu antara lain: 
  1. Usia
    Penambahan usia menyebabkan manusia memasuki masa perkembangan selanjutnya dari masa kanak-kanak, yaitu masa remaja. Hal mana pada masa ini merupakan masa pubertasi yang ditandai dengan kematangan fungsi seksual.
  2. Perubahan hormonal
    Perubahan hormonal dikarenakan yang bersangkutan memasuki masa pubertas dimana laki-laki mengalami peningkatan hormon testeosteron dan perempuan mengalami peningkatan hormon estrogen yang bisa memicu munculnya hasrat seksual.
  3. Gender
    Remaja putri cenderung permisif dalam hal seksual dari pada remaja laki-laki yang biasanya karena alasan untuk membuktikan kesetiaan dan takut ditinggal oleh pacarnya. Hal mana remaja putri lebih menekankan pada kualitas hubungan yang sedang dijalin sebelum terjadinya perilaku seks.
Faktor Eksternal
Faktor ekternal adalah faktor dari luar diri individu, yaitu antara lain:
  1. Pengaruh teman sebaya
    Teman, pacar, kelompok sosial yang seusianya turut memberi kontribusi dalam munculnya perilaku seks pranikah. Remaja yang memiliki pacar cenderung akan memiliki peluang lebih besar untuk melakukan perilaku seks pranikah dibandingkan remaja yang menunda untuk pacaran. Dorongan teman-teman dan rasa ingin diakui dan dihargai juga bisa menyebabkan remaja mengikuti jejak teman-temannya untuk berperilaku seks pranikah. 
  2. Pengaruh orang tua
    Pengawasan yang kurang dari orang tua dan pola hubungan dan pola komunikasi antara orang tua dan anak turut menjadi faktor munculnya perilaku seks pranikah pada remaja.
  3. Pengaruh media massa dan teknologi
    Kecenderungan pelanggaran makin meningkat seiring dengan mudahnya informasi dan rangsangan seksual yang diperoleh melalui media massa sebagai efek kemajuan teknologi yang tak mampu lagi disaring dengan baik seperti VCD, Handphone, Internet hal mana remaja yang sedang dalam masa pubertas terdorong rasa ingin tahunya dengan mencoba dan meniru apa yang dilihatnya.
Selain dari faktor-faktor tersebut di atas, terdapat juga faktor lain yang mempengaruhi munculnya perilaku seks pranikah, yakni sebagai berikut:
  1. Kontrol Diri;
  2. Pemahaman Religius; dan
  3. Pengetahuan Seksual Pranikah.
Kontrol Diri
Kontrol diri biasa dilakukan untuk mengendalikan emosi seseorang, perilaku dan keinginan untuk memperoleh sesuatu yang tertentu, atau menghindari dari hukuman tertentu. Pengendalian diri mengacu pada kemampuan seseorang untuk membawa diri ke kehidupan yang sesuai dengan standart seperti cita-cita, nilai, moral, dan harapan sosial (Baumeister, 2007). Dengan demikian mahasiswa memerlukan kontrol diri yang baik agar dapat mencegah terjadinya perilaku seksual.

Pemahaman Religius
Sebagian orang akan percaya bahwa moral dan religi dapat mengendalikan tingkah laku seseorang salah satunya adalah kelompok remaja dimana remaja akan melakukan sesuatu yang merugikan seperti perilaku seksual (Sarwono, 2010).

Berkomitmen untuk beragama secara terus menerus pada masa remaja dapat mempengaruhi dari perilaku remaja sehingga remaja akan bersikap lebih positif seperti menghindari perilaku negatif (Wulantika, 2016).

Pengetahuan Seksual Pranikah
Menurut penelitian Zahroh & Indrawati (2012) yang menjelaskan bahwa pengetahuan yang baik akan mempengaruhi seseorang dalam menentukan sikap. Sikap yang baik akan mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu tindakan, dimana pengetahuan dan sikap menjadi dasar tindakan atau perilaku seseorang.

Oleh karenanya pengetahuan tentang seks pranikah penting bagi remaja untuk menjadi dasar tindakannya dalam mengurangi atau menjauhi perilaku seks pranikah dan akibat yang ditimbulkan. Menurut Arikunto (2010) penilaian tingkat pengetahuan dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga), yaitu: 
  1. Baik apabila 76-100%;
  2. Cukup apabila 56-75%; dan
  3. Kurang apabila ≤ 56%.

Bentuk-Bentuk Perilaku Seks Pranikah
Bentuk perilaku seks pranikah menurut Duvall dan Miller (1985) terbagi ke dalam beberapa kategori, yaitu sebagai berikut:
  1. Bersentuhan (touching) yang terdiri dari berpegangan tangan, berangkulan, berpelukan;
  2. Berciuman (kissing), hal mana batasan perilaku ini mulai dari light kissing berupa kecupan hingga french kissing atau deep kissing yaitu aktivitas mencium sambil meraba di atas pakaian;
  3. Bercumbu (petting), yaitu merupakan bentuk dan berbagai aktivvitas fisik secara seksual lebih dari ciuman atau berpelukan yang mengarah kepada pembangkit gairah seksual termasuk stimuli genital dan seks oral namun tidak sampai senggama;
  4. Berhubungan intim (seksual intercourse), yaitu adanya kontak penetrasi penis ked alam vagina disertai cumbuan.
Menurut Rathus dan Nevid (1993) bentuk perilaku seks pranikah antara lain: 
  1. Berciuman (kissing)
    Ciuman dapat menjadi bentuk afeksi seseorang kepada pasangan, teman atau kerabatnya. Untuk itu ciuman bisa sebatas pada pipi atau lebih jauh lagi yaitu ciuman bibir. Berciuman bibir dapat dengan adanya gerakan lidah pada mulut pasangannya (deep kissing) atau hanya sekedar menempelkan bibir ke bibir pasangannya.
  2. Stimulasi payudara, antara lain mencium, menghisap atau menjilat payudara pasangan.
    Bagian tubuh lain yang biasanya juga dicium termasuk tangan, kaki, leher dan lubang telinga, paha dalam dan alat genital.
  3. Menyentuh (touching) dan stimulasi oral genital
    Termasuk menyentuh atau merasa daerah erotis dari pasangan untuk menimbulkan rangsangan sampai stimulasi oral (mulut) ataupun manual (dengan menggunakan tangan) terhadap alat kelamin pasangannya.
Mengenai bentuk perilaku seks pranikah yang biasa dilakukan oleh remaja menurut Soetjiningsih (2009), antara lain:
  1. Bergandengan tangan
    Bergandengan tangan merupakan perilaku yang hanya dilakukan dengan berpegangan tangan satu sama lain saat mereka berkencan atau sedang bepergian.
  2. Berciuman
    Berciuman merupakan suatu tindakan yang dilakukan dengan cara saling menempelkan antara bibir ke pipi atau bibir ke bibir sampai saling menempelkan lidah sehingga akan menimbulkan rangsangan seksual antar keduanya.
  3. Bercumbu
    Bercumbu merupakan perilaku yang dilakukan dengan cara memegang atau meremas payudara, baik melalui pakaian atau secara langsung, juga saling menempelkan alat kelamin tetapi tidak sampai melakukan senggama secara langsung. 
  4. Senggama
    Senggama adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jenis tahapan perilaku seks pranikah adalah sebagai berikut:
  1. Touching, yakni bersentuhan, berpegangan tangan dan berpelukan;
  2. Kissing, yakni berciuman ringan, maupun ciuman basah;
  3. Petting, yakni bercumbu, melibatkan stimulasi oral maupun tangan pada organ genital;
  4. Sexual Intercourse, yakni hubungan seksual, melakukan hubungan intim disertai penetrasi penis ke dalam vagina.


Dampak dari Perilaku Seks Pranikah
Perilaku seks pranikah membawa implikasi, misalnya Kehamilan yang Tidak Dikehendaki (KTD) dan tertular infeksi menular seksual (IMS). Remaja yang mengalami KTD akan mengalami dua hal yaitu mempertahankan kehamilan dan aborsi. Keduanya memiliki resiko psikologis, sosial, dan fisik yang berdampak pada kematian (Soetjiningsih, 2010).

Perilaku seksual pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja yang diklasifikasi dalam 3 (tiga) dampak, yakni antara lain:
  1. Dampak Fisiologis;
  2. Dampak Psikologis; dan
  3. Dampak Sosial.
Dampak Fisiologis
Dampak fisiologis berupa kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, cacat bayi saat lahir, kematian ibu saat melahirkan, kematian bayi, kerusakan organ reproduksi perempuan akibat aborsi yang tidak benar, resiko terkena penyakit menular seksual (PMS) termasuk tertular HIV dan AIDS (Santrock, 2010). Chiao dan Yi (2011) juga mengemukakan bahwa perilaku seks pranikah mempengaruhi tingkat kesehatan remaja secara umum.

Dampak Psikologis
Menurut Sarwono (2012) dampak psikologis dari perilaku seksual pranikah diantaranya perasaan marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, rasa bersalah dan berdosa sampai rasa ketagihan.

Dampak Sosial
Karena perilaku seks pranikah ini merupakan sesuatu yang menentang norma budaya dan agama, maka biasanya pelakunya akan mendapatkan cemoohan masyarakat, dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil sampai terpaksa mengalami perubahan peran sebagai ibu. Dampak lain nya pada remaja secara sosial adalah merubah sikap menjadi lebih permisif akan perilaku seks pranikah dan memandang lebih negatif terhadap pernikahan.

Pencegahan Perilaku Seksual Pranikah
Menurut Soetjiningsih (2008) upaya yang dapat dilakukan remaja untuk mencegah perilaku seksual pranikah, yakni sebagai berikut:
  1. Meningkatkan kualitas hubungan orang tua dengan remaja
    Sebagai orang tua hendaknya bersikap terbuka terhadap masalah seksual sehingga bisa menjadi tempat curhat bagi anaknya yang membutuhkan informasi seksual. Sikap dan perilaku orang tua juga berperan sebagai contoh atau teladan anaknya dalam menyikapi hubungan seks pranikah.
  2. Keterampilan menolak tekanan negatif dari teman sebaya
    Teman sebaya mempunyai pengaruh yang terbesar dalam mempengaruhi skap dan perilaku remaja. Untuk itu remaja perlu berinisiatif dalam melakukn penolakan terhadap ajakan teman yang mengarah ke hal yang negatif atau lebih amannya, perlu memilih teman yang membawa pengaruh positif dalam bergaul sehingga remaja dapat bersikap bijaksana terhadap hubungan seks pranikah.
  3. Meningkatkan religisitas remaja yang baik
    Ajaran agama untuk remaja sebaiknya tidak hanya dikhotbahkan akan tetapi diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang nyata yang dikaitkan dengan masalah-masalah konstekstual dalam kehidupan remaja contohnya masalah kesehatan reproduksi dan seksual. Dari kegiatan yang nyata akan membentuk sikap remaja yang bijaksana khususnya dalam menyikapi hubungan seks pranikah.
  4. Pengaturan peredaran media pornografi
    Media memberikan manfaat yang positif yaitu lebih menampilkan pesan-pesan seksualitas yang mendidik karena sebenarnya media dapat dimanfaatkan sebagai media yang ampuh dalam menyampaikan materi pendidikan seksualitas, hal mana dengan informasi yang positif maka akan membawa dampak positif pada sikap dan perilaku remaja.
Menurut Sarwono (2016) agama merupakan salah satu kontrol sosial dalam berperilaku. Remaja yang memiliki iman dan kontrol sosial yang baik juga akan memiliki etika berperilaku yang baik. Dalam berperilaku yang baik, agama juga memiliki peran untuk mengurangi kemungkinan seseorang melakukan tindakan seksual di luar batas agama. 

Menurut Zahroh dan Indrawati (2012) pencegahan perilaku seksual pranikah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  1. Setiap remaja harus memiliki pendidikan yang baik tentang perilaku seks pranikah;
  2. Adanya pola asuh orang tua yang baik pada remaja;
  3. Remaja memiliki pemahaman agama secara baik;
  4. Remaja dapat menghindari media massa yang buruk;
  5. Remaja dapat memilih teman yang baik dalam kehidupannya; dan
  6. Remaja mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat.
Demikian penjelasan singkat mengenai Perilaku Seks Pranikah yang dirangkum dari berbagai sumber, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Jika ada pertanyaan atau tanggapan sehubungan dengan artikel ini, silahkan kirimkan pesan. Kritik dan sarannya diperlukan untuk membantu kami menjadi lebih baik kedepannya dalam menerbitkan artikel. Terima kasih
Baca Juga:
Erisamdy Prayatna
Blogger | Advocate | Legal Consultant
Father of Muh Al Ghifari Ariqin Pradi

Baca Juga:

1 komentar

  1. Pengawasan orang tua memang perlu, tapi terkadang pengawasan yang terlalu ketat menyebabkan para remaja memberontak. Pemberontakan remaja paling rentan akan pergaulan bebas yang berujung ke perilaku seks pranikah.

    BalasHapus
Komentar Anda Membantu Kami Menjadi Lebih Baik. Terima Kasih