BzQbqi7srrl67Hfvhy9V9FxE68wSdBLJV1Yd4xhl

Pengikut

Penanggulangan Kejahatan Pornografi

Penanggulangan Kejahatan Pornografi
Dalam penanggulangan kejahatan pornografi, ada 2 (dua) pendekatan yang bisa dilakukan agar tidak terus terjadi bahkan meningkat kasusnya, yaitu:
  1. Pendekatan Sosiologis; dan
  2. Pendekatan Psikologis.

Pendekatan Sosiologis
Ditinjau dari segi sosiologis, tindakan kejahatan atau kriminalitas disebabkan tidak ada integrasi yang harmonis antara lembaga-lembaga kemasyarakatan sehingga masing-masing individu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan macam-macam hubungan sosial. 

Gejala problema sosial mengakibatkan hubungan-hubungan sosial terganggu dan menimbulkan kegoyahan dalam kehidupan kelompok (Soerjono Soekanto, "Sosiologi Suatu Pengantar", Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1969, hlm. 282). Dalam penanganan kejahatan pornografi dari segi sosial dalam bahasan ini yaitu yang mengalami perubahan-perubahan dan kegoyahan yang ditimbulkannya yang dibatasi pada:
  1. Keluarga;
  2. Sekolah; dan
  3. Masyarakat.
Keluarga
Kedudukan keluarga sangat fundamental dan mempunyai peranan yang vital bagi pendidikan seorang anak. Ia merupakan wadah pembentukan pribadi anggota keluarga terutama untuk anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan fisik dan rohani. Lingkungan keluarga secara potensial dapat membentuk pribadi anak atau seseorang untuk hidup secara lebih bertanggung jawab. 

Namun, jika usaha pendidikan dalam keluarga itu gagal, maka akan terbentuk seorang anak yang cenderung melakukan tindakan kenakalan dalam masyarakat dan sering menjurus kepada tindakan kejahatan atau kriminal. Sebab-sebab terjadinya tindakan kejahatan atau kriminal (Y. Bambang Mulyono, "Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya", Yogyakarta: Kanisius, 1984, hlm. 27-29.) diantaranya disebabkan oleh:
  1. Disharmoni keluarga (broken home)
    Oleh karena keluarga adalah tempat yang primer dalam pembentukan pribadi seorang anak, maka kehilangan keharmonisan itu akan mempunyai pengaruh yang destruktif bagi perkembangan seorang anak terutama pada anak yang berada dalam proses memcari identitas diri sebab ketidakharmonisan tersebut bagi anak dirasa sebagai hal yang membingungkan sehingga mereka kehilangan tempat berpijak dan pegangan hidup.
  2. Pendidikan yang salah
    Dalam hal ini disebabkan karena dua hal, pertama: over proteksi dari orang tua, maksudnya karena merasa bersalah tidak bisa mengurus anak sebab kesibukanya maka selalu memenuhi apa yang diinginkan oleh anaknya sehingga anaknya bersikap semaunya, egois dan melakukan tindakantindakan yang tidal wajar yang kadang-kadang sering bertentangan dengan norma kesusilaan dan hukum. Kedua: persoalan sense of value kurang ditanamkan oleh orang tua, seperti nilai-nilai norma kehidupan/ masyarakat, norma religius dan sebagainya.
  3. Terjepitnya generasi muda antara norma-norma lama dengan norma-norma baru
    Hal ini menyebabkan anak-anak tidak mempunyai pegangan untuk menilai semua sikap dan tingkah laku sebab semuanya serta relatif dan kabur. Sementara bimbingan orang tua sangat kurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Akibatnya banyak timbul kelompok-kelompok pemuda di geng yang bersifat informal untuk membuat acara sendiri.
  4. Anak yang tidak dikehendaki
    Hal ini disebabkan karena kurang kedewasaan orang tua secara psikis sehingga tidak mau bertanggung jawab terhadap anaknya misalnya menginginkan anak laki-laki ternyata perempuan, memiliki anak cacat fisik sehingga orang tua malu dan memperlakukan tidak adil serta tidak memberi dukungan moral dan kasih sayang. Akibatnya anak memiliki tingkah laku yang menyimpang, agresif, sadistis, berbuat kriminal dan lain-lain.
Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan formal yang mempunyai peranan untuk mengembangkan kepribadian anak sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya untuk melaksanakan tugas di masyarakat. Tujuan ini dapat berhasil jika guru dapat mendorong dan mengarahkan murid untuk belajar mengembangkan kreatifitas pengetahuan keterampilanya. 

Artinya antara guru dan murid ada hubungan yang baik dan saling mempercayai untuk belajar bersama. Namun jika yang terjadi sebaliknya, murid-murid tidak memiliki semangat belajar maka timbulah mode membolos, santai-santai, mengganggu orang lain (biasanya tergabung dalam geng) dan dengan kenakalannya tidak jarang melakukan tindakan kriminal.

Masyarakat
Karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat sehingga membawa perubahan yang sangat berarti dalam masyarakat namun juga membawa permasalahan yang mengejutkan. Akibatnya norma-norma sosio kultural yang ada direlatifkan mengarah pada cara berfikir yang desakralisasi, profanisasi yang kemudian meninbulkan:
  1. Disorganisasi
    Disorganisasi yaitu proses memudarnya atau melemahnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat akibat perubahan sosial (Soerjono Soekanto, "Sosiologi Suatu Pengantar", hlm. 32).
  2. Cultural Lag
    Menurut teori dari William F Ogburn, cultural lag adalah adanya pertumbuhan kebudayaan yang tidak dalam kecepatan yang sama secara keseluruhan, ada yang tumbuh cepat tetapi juga ada yang lambat (Y Bambang Mulyono, "Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya", Yogyakarta: Kanisius, 1984, hlm. 32).
  3. Patologi Sosial
    Patologi sosial ditandai dengan adanya konflik-konflik batin antar individu atau kelompok, tidak dapat menciptakan suatu hidup yang harmonis dan terdapat kevakuman spiritual (batin) (Y. Bambang Yulianto, "Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya", Yogyakarta: Kanisius, 1984 , hlm. 33).
  4. Mental Disorder
    Sebab utama dari mental disorder adalah adanya proses modernisasi yang terlalu cepat sehingga orang sulit untuk mengadakan penyesuaian diri dengan perubahan baru (Kartini Kartono, "Teori-Teori Kepribadian dan Mental Hygiene", Bandung: Alumni, 1974, hlm. 194).


Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis merupakan peninjauan untuk menemukan sebab-sebab intern dalam totalitas kepribadian seseorang. Pendekatan ini terdiri dari beberapa hal, yaitu:
  1. Teori Kepribadian Bio-Fisis;
  2.  Psiko-analisa Freud; dan
  3. Individual-Psikolog Adler.
Teori Kepribadian Bio-Fisis
Teori kepribadian bio-fisis yaitu suatu konsep pemikiran yang sistematis mengenai manusia sebagai individu. Hal mana yang dipelajari adalah semua aspek individual manusia (Y. Bambang Mulyono, "Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggunlanganya", Yogyakarta: Kanisius, 1984, hlm. 37-38) yang meliputi:
  1. Pertama, aspek individualitas biologis dan individualitas psikologis;
  2. Kedua, temperamen yaitu merupakan aku-psikis dalam hubunganya dengan konstitusi jasmaniah, bersifat herediter sehingga ada elemen-elemen yang tidak dapat diubah;
  3. Ketiga, karakter, yaitu aku-psikis yang mengekspresikan diri dalam bentuk tingkah laku dan totalitas diri;
  4. Keempat, bakat, yaitu mencakup`faktor yang sudah ada sejak lahir yang mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan diri dalam suatu keahlian atau kecakapan-kecakapan tertentu. 
  5. Kelima, Inteligensi.
Sehingga dapat dikatakan bahwa struktur organisasi kepribadian mempunyai sifat yang dinamis sehingga akan turut menentukan cara atau tindakanya yang unik dala menyesuaikan dengan lingkungan yang ada.

Psiko-analisa Freud
Menurut Sigmund Freud dari Austria (1856-1939) menyatakan bahwa kegiatan dan tingkah laku manusia sehari-hari dipengaruhi oleh pergolakan aktivitas alam bawah sadar. Jadi sebab-sebab kejahatan dan keabnormalan adalah karena pertempuran batin yang serius antara ketiga proses jiwa, yaitu:
  1. Id;
  2. Ego; dan
  3. Superego.
Oleh karena hal tersebut kemudian menimbulkan kegoncangan atau hilangnya keseimbangan dalam pribadi tersebut. Ketidakseimbangan itu menjurus kepada perbuatan kriminal sebab fungsi ego untuk mengatur dan memecahkan persoalan secara logis menjadi lemah.

Individual-Psikolog Adler
Adapun pada pendekatan ini menurut Adler (Y. Bambang Mulyono, "Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggunlangannya", Yogyakarta: Kanisius, 1984, hlm. 41), ada 2 (dua) rasa yang fundamental dalam diri manusia yaitu: 
  1. Rasa minder; dan
  2. Rasa sosial.
Demikian penjelasan singkat mengenai Penanggulangan Kejahatan Pornografi yang dirangkum dari berbagai sumber, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Jika ada pertanyaan atau tanggapan sehubungan dengan artikel ini, silahkan kirimkan pesan atau tinggalkan komentar di akhir postingan. Kritik dan sarannya sangat diperlukan untuk membantu kami menjadi lebih baik kedepannya dalam menerbitkan artikel. Terima kasih.
Baca Juga:
Erisamdy Prayatna
Blogger | Advocate | Legal Consultant
Father of Muh Al Ghifari Ariqin Pradi

Baca Juga:

1 komentar

  1. Penanggulan yang berupa sosialisasi baik dari lingkup keluarga, masyarakat, dan pemerintah harusnya dapat meningkatkan kesadaran orang orang akan akibat dari tindakan. Sehingga sanksi sosial dari pelaku kejahatan bisa diminimalisir.

    BalasHapus
Komentar Anda Membantu Kami Menjadi Lebih Baik. Terima Kasih